Serdadu Kecil

Suara kicau burung masih terdengar jelas, kabut pagi masih menyelimuti dinginnya pagi. Namun suasna pondok pesaantren islam AD-DA’WAH telah ramai dengan kegiatan santri. Pagi itu santri – santri telah sibuk dengan persiapan masing – masing dan kelompok, untuk persiapan camping ke kaki gunung pulosari yang ada di Pandeglang Banten, Mandalawangi namanya.

Tiga hari sebelum keberangkatan santri – santri sudah banyak melakukan persiapan mulai dari persediaan makanan, persediaan kompor buatan, persiapan tenda, persiapan peralatan yang di butuhkan, dan juga persiapan kesehatan jasmani dan rohani. Karna kegiatan camping akan di laksanakan dalam jangka waktu satu pekan di sana, sedangkan cuaca pada waktu itu sedang musim hujan, ditambah dengan hawa di sana yang dingin.

Pagi itu bunyi bel panjang di bunyikan “ngii……iiw, ngii….iiw…..” santri lari kelapangan berhamburan. “ahsabukum hatta khomsah…. Man yataakhor fa ‘alaihi maa ‘alaih…” (saya hitung sampai lima… bagi siapa yang terlambat maka akan ada hukumannya) Teriak seorang ustadz di tengah lapangan. “wahid…. Itsnani… tsalatsa…” (satu…. Dua… tiga…) belum selesai menghitung , para santri sudah berkumpul di lapangan dengan rapi. Suasanaun menjadi hening dengan keseriusa, ustadz itu langsung menyuruh para ketua dari setiap regu melapor akan kehadiran anggotanya.

Setelah melapor kehadiran anggota, ustad itu mengecek akan perlengkapan yang akan di bawa. Alhamdulillah semua peralatan sudah di bawa dengan lengkap , setiap regu disuruh untuk menaikan barang bawaan dan kelengkapan ke atas mobil truck yang telah siap secara bergiliran, sekaligus setiap aggota langsung menempati truck itu, Karna perjalanan akan segera di lakukan.

 

Di Perjalanan

QR_3013_(Jordan_Township_Road)

street

mobilpun mulai di nyalakan dan di jalankan, santripun bersorak gembira keriangan. Lalu di sambut dengan nasyid yang mereka lantunkan, “perjuangn menegakkan islam… ku akui tak seindah kata…. Penuh coba duka dan nestapa… mengarungi setiap alunan langkah…. Namun kucoba renungn lagi…. Pesan dalam Al-Qur’an suci… ALLAH tak akan membiarkan … pengakuan tanpa ada ujian……” begitulah mereka melantunkan nasyid hingga akhir, degan di ulang berkali – kali.

Namun ketika di pertengahan perjalanan banyak sekali santri yang tertidur, dan da juga yang menikmati perjalanan. Tetesan tetesan airpun mengenai wajah mereka, hingga akhirnya mereka terbangun dari mipinya. gerimispun hilang  di ganti dengan cahaya matahari, hingga perjalananpun sudah usai.

Karena mobi tidak bisa masuk lebih jauh di sebabkan jalan nya yang begitu menangtang , maka santripun berjalan kaki tanpa beban. mereka berjalan kaki dengan urutan kelompok, tidak ada yang boleh mendahului kelompok lain dan tak boleh meninggalkan kelompoknya.

camp1

http://supardi-addakwah.blogspot.co.id

Setengah jam berlalu akirnya santri kembli lagi, karena jalan yang santri lewati tadi salah. Santripun kembali dengan sedikit kecewa. Tapi sudahlah, setela berjalan menyusuri jalan tadi, ternyata santri salah belok. Setengah jam yang kedua berlalu ternyata tanpa sadar santri sudah sampai tujuan, pada pukul 14.00 wib.

Ustadz pun menginstuksikan agar membuat tenda secepat mungkin, dengan cekatan para santri segera membuat tenda masing – masing kelompok. Pukul 14.30 semua tenda sudah berdiri, laksana bangunan gedung yang kokoh. Suara peuit bunyi para santri berlarian ke lapangan daan berbaris dengan rapi tanpa intruksi, ustadpun mulai memberi pesan dan tanda tanda peluit dan memberi tahukan jam –jam kegiatan tujuh hari kedepan.

camp3

http://supardi-addakwah.blogspot.co.id

Santripun di bubarkan dan langsung mandi di sungai, kewaspadaan dan kepekaan harus santri pasang, karena sewaktu – waktu ada peluit dadakan, dan santri harus tetap siaga dan mengikuti peraturan. “priii…iitt… priii…iitt…. Priii…iitt…” tiga peluit panjang dibunyikan tanda waktu makan malam telah datang.

Menggigil dan Pulang

AAA

http://supardi-addakwah.blogspot.co.id

Malam ini adalah malam pertama santri camping, hawa dingin mulai menusuk hingga tulang – tulang mereka. Para santri sedang menghngatkan badan di dalam tenda, karna hujan sedang turun. Tak lama hujan kembali reda, “prii…iitt, prit, prii..iitt….” tiba – tiba suara peluit berbunyi, santripun keluar berhamburan dan langsung menuju bunyi peluit berasal.

Ustad itu menasehati kami agar tetap siaga dan peka, dan selalu menjaga kesehatan cuaca sedang musim hujan. Di sana para saantri tiada hari tanpa peluit, setiap jam pasti adaa peluit , jika ada yang terlambat kumpul di hokum. Mereka tak pernah mengeluh, Karen itu yang membuat menangtang mereka, dan merekapun jarang memakai baju kering. Karena setiap harinya selalu hujan.

Hari kedua tiba, ini hari dimana santri di gembleng habis – habisan. Mereka di rolling, di pushup, lari, panjat pohon dan banyak lagi, sembari menyanyikan nasyid “dipukul dipalu”. Tapi itu semua membuat santi tambah semangat, karna jiwa – jiwa mereka jiwa baja. Setelah hari mulai sore, mandi di suangai yang airnya jernih dan dingin, Dan membuat mereka semakin kedinginan.

Di hari ketiga ini mereka jelajah alam, menyusuri sungai, menerobos hutan , dengan kebersamaan. Ketika mereka tiba di pos akhir, mereka mencium bau tak sedap, dan mereka di suruh untuk tiarap melewati rintangan yang ada di hadapan mereka. Ternyata benar, ada kotoran kerbau di balik rintangan yang ada. Setelah melewati rintangan itu, santri langsung berlari ke sungai dan encuci pakaian.

camp5

http://supardi-addakwah.blogspot.co.id

Setelah dari sungai tiba – tiba hujan turun deras, dan di sambut suara peluit yang panjang dan melengking “prii….iitt,.. prii….iitt…”, santri pun lari kembali meskipun hujan deras. Dan itu menjadi kegiatan akhir camp karna melihat kondisi santi yang kedinginan.

Keesokan paginya tenda – tenda di runtuhkan dan lapangan di bersihkan, di perjalanam mereka kibarkan bendera islam hitam putih dan diikuti nasyid dan takir. Semua orang yang di jalan melirik para santri.

Leave a Reply