Dilema Akan Cinta Antara Dua Wanita

Malam itu di sebuah caffe, hanya ada kesedihan dan tekanan pada sepasang calon suami istri yang akan menikah.

Nia    : mas, kamu tahu kan perasaan aku saat kita baru bertemu dan hingga saat ini ?!

Aldo   : iyh Nia aku tau tapi….

Nia     : enggak mas kamu gak tau. mas aku sayang sama kamu dan kamu tahu bahwa aku begitu hormat pada ibumu mas.

Aldo   : justru aku tahu, aku tidak terima dan aku bingung.

Nia     : ini bukan sekedar aku dan kamu mas. Ini keluarga kita, keluarga besar kita mas. Jangan menekan aku seperti ini mas, aku mohon.

Aldo    : aku tidak menekan kamu Nia, aku binggung, kamu tega Nia tega….

Nia      : mas kamu taukan gimana keluargaku keluarga besarku ?!? penuhi permintaan mereka.  Aku mohon, kalau memang kamu serius dengan pernikahan kita, penuhi syarat dari mereka.

Aldo    : aku harus tinggalkan ibuku, untuk pernikahan kita. syarat macam apa itu ?!?

Nia      : mas setelah itu kita tidak masalah tingga dengan ibu kamu, aku sayang sama beliau.

Aldo    : tapi kenapa harus syarat seperti itu ??

Nia      : itu…

Aldo    : itu karena keluargamu tidak menghormatiku, karena aku anak seorang tukang cuci baju, bekas dari pembantu di rumahmu.

Percakapan itu berakhir dengan berbuah kesedihan. Keesokan harinya aldo meminta nasehat kepada seorang ustadz.

Aldo    : ustadz, saya mau menikah dengan seorang wanita akan tetapi dari pihak keluarganya meminta syarat yang aneh.

Ustadz : lah kok bisa..?? syarat apa ?? (dengan ekspresi kalem dan berwibawa, seperti sudaah tahu permasalahannya)

Aldo     : keluarga wanita yang mau saaya nikahi memberi syarat, ketika acara pernikahan ibuku tidak boleh hadir di acara pernikahanku. Ini menurutku adalah syarat yang konyol, aku tidak bisa melakukan ini.

Ustadz : ibu itu segalanya aldo… karena ridhonya allah ada pada ridho orang tua… apa lagi sekarang orang tua kamu tinggal sebelah, nah itu kesempatan ente buat berbakti sama orang tua.. kejar itu…

Pak ustadz menasehati aldo dengan panjang lebar. Nasekat dari ustaadz itu selu  teriang di telinga aldo, aldo semakin yakin akan keputusan yang harus dia lakukan. Setiba di rumah aldo memberikan salam kepada bunya, ibu aldo menyambutnya dengan hangat dan penuh kasih sayang.

Ibu       : oh aldo sayang… udaah lama nak..??

Aldo     : belum bu.. baru nyampe.

Ibu       : anak ibu yang dulu jatuh dari sepeda menangis tapi sekarang udah mau menikah, udah mau jadi imam keluarga, kepala keluarga..

Aldo     : mmm… (belum sempat berbicara ibunya langsung berbicara kembali)

Ibu        : ibu bingung harus  ngasih kado apa buat pernikahan kamu nanti. Tapi ibu bangga dengan kamu nak sudah bisa membuat ibu senang dengan pernikahanmu nanti.

Aldo      : tapi bu..

Ibu         : kenapa aldo…??

Aldo        : aku gk mau menikah… aku engak jadi menikah kalau ibu tidak hadir di pernikahanku nanti. Aku engak mau bu…. Aku engak mau…..!!!

Tiba tiba muncul nia di hadapan aldo tanpa sepengetahuan aldo kalau nia sudah ada di rumahnya sebelum dia pulang.

Aldo        : nia.. kamu sudaah di sini…??

Nia          : iyh mas… aku cuman mau kasih tau…. Bahwa ini rencaanaku sendiri yang ingin mencoba kecintaan kamu sama ibu kamu mas… aku gk mau menikah dengan laki – laki yang cintanya pada istri lebih dari cinta kepada ibunya. Tapi kamu mas adalah calon imamku yang cintamu padaku tak melebihi dari cinta kepada ibumu. Aku bangga dengan kamu mas, maafkan aku mas.

Aldo          : jadi… jadi ibu sudah tahu semuanya.

Ibu            : iyh nak. Ibu sudah tahu. Nah sekarang bantu ibu untuk mencari kado yang pas buat pernikahan kamu nanti.

Aldo          : gk mau bu… gk mau… (saambil tersenyum bahagia).

Suasanapun menjadi hangat dengan penuh kebahagiaan.

Leave a Reply