Masuk Pondok..?? Kenapa Tidak..!!

Masuk SMP

Perjalanan yang begitu membosankan, dengan rute yang begitu lumayan jauh, akupun mulai bertanya. “pak pondokna tebih keneh ? (pak pondoknya masih jauh ?) tanyaku pada bapakku. “tos caket “ (udah deket) bapakku menjawab. “itu pondokna pak ? (itu pondoknya pak ?) tanyaku lagi, sambil menujuk ke rumah yang mirip dengan sebuah pondok. “sanes atuh, tuh nu palih ditu” (bukan, itu yang sebelah sana) jawab sepupuku yang dari tadi hanya terdiam saja. Akupun terdiam karna heran, dalam benakku berfikir pondok itu tampak seperti bangunan kontrakan. Akhirnya akupun samai di pondok dengan disambut seorang ustadz. Aku pun langsung melakukan test, mulai dari test tulis , test baca Al-Qur’an, dan psikotest.
Matahari mulai terbenar, cahyanya mulai meredup, suara burung mulai berkicau dimana-mana, tanda sore sudah tiba, dan malam akan menyusul. Test telah usai aku pun pulang kembali, tapi sebelum pulang aku pergi ke setasiun untuk melihat kereta, karena adiku ingin melihat bentuk kereta yang asli. Setelah maghrib kamipun pulang, dan aku tinggal menunggu hasil test di pondok itu. Sebut saja pondok itu “Pondok Pesantren islam Ad-Da’wah”.
Satu pekan berlalu, kabar aku di terima di pondok itu datang ketelingaku, aku harus ada di pondok, 2 minggu lagi tepatnya tanggal,15 juni 2009. Satu hari sebelum keberangkatan aku sibuk dengan segalanya, sibuk mempersiapkan apa saja yang harus di bawa ke ma’had. Di samping kesibukanku, aku juga sibuk berfikir tentang masa lalu yang sudah di lalui selama 12 tahun di rumah. Kesdihan yang melanda hatiku mulai aku hilangkan. Tak terasa malam sudah tiba, akupun tertidur. Keesokan harinya aku pergi ke pondok pada pukul 09.00 pagi, dengan di antar bapak dan sepupuku, aku tiba di pondok jam 11.58 ketika waktu dzuhur. Setelah sholat aku berkenalan dengan teman-teman sekelas yang sudah datang.
Pada sore harinya bapakku pulang, namun aku tetap kuat dan tabah, tak seperti teman temanku yang lain. Ada yang di tinggal orang tua nangis, ada yang orangtuanya tidak boleh pulang, ada juga yang setelah di tinggal orangtuanya, selalu termenung dan menangis. Tapi menurutku itu hal yang wajar, karna mereka masih belum mengerti dan masih kekanak-kanakan. Setelah MOS kami jalankan KBM (kegiatan belajar mengajar) mulai berjalan.

Waktu itu jumblah teman-temanku ada 45 orang namun di pertengahan tahun tersisa 40 orang. Tapi itu semua tak membuat kami future (patah semangat), aku dan teman – teman selalu bangun pada jam 03.30 dan melaksanakan sholat tahajud, hingga waktu shubuh tiba. Setiap Setelah shubuh aku menghafal, tapi entah kenapa hafalanku hingga saat ini tetap sedikit.” Ya Allah, hingga saat inipun hafalanku tak kunjung bertmbah, mungkin karna kurang keseriusan, atau mungkin karna banyaknya maksiat yg aku lakukan, ya rabbi… entahlah” dalam hati kecilku menggerutu.

Qiro'ah

ahmadfauziansori.com

Kelas satu, kelas dua SMP kulewati, kini giliran kelas tiga yang ku jalani, diriku masih tampak sebagai sosok yang kecil di kelas. Tapi semangatku dan keberanianku tak sekecil wujud fisikku, buktinya meskipun aku paling kecil di kelas tapi aku tak pernah di bully oleh teman – temanku yang lain. Tapi aku merasa iba dengan keadaan temanku yang satu ini meskipun aku pernah membulinya, setiap harinya dia selalu di bully, dimaki, tapi dia tetap bersabar meskipun dalam hatinya ada rasa dendam hingga sekarang, terkadang aku juga geram dengan prilaku teman – temanku yang selalu membully itu. “Ya Allah… dayaku..!!!” hati kecilku berteriak. Berdosakah diri ini membiarkan kedzoliman terjadi di depan mataku sendiri.
Masa masa bimbel dan try out sedang aku jalani, inilah masa terasanya sebuah pertemanan, belajar bareng, nyuci bareng, ngobrol bareng, makan bareng, hingga kabur bareng. Jika ku ingat masa itu ku selalu ingin tersenyum dan ingin ku ulangi kembali. tapi itu masa lalu yg menjadi pembelajaranku agar lebih dewasa dimasa yang akan datang.
Hari pertama kali ujian nasional tiba, di sinilah aku baru pertama kali satu ruangan dengan wanita, sebut saja sosok itu dengan santriwati. yang biasanya saya tak pernah satu ruangan dengan mereka sekarang satu ruangan, wajar lah jika suasana di kelas begitu hening tanpa suara yang ada hanya suara pensil jatuh, suara kertas di bolak balik, suara batuk seadanya, dan suara perut yang mulai lapar.

Hari pertama sudah di jalani, hari kedua ku lalui dengan banyak kisah didalamnya, yang jika kuingat itu aku mersa malu. Alkisah ketika pensilku patah aku menyerut paensilku dengan serutan yang ukuran besar yang di putar, entah kenap semua orang yang di kelas sepontan menengok kearahku, lalu mereka tertawa “hahaa…hahaa…hahaa..” tapi biarlah karna aku pemalu apa lagi dengan seorang yang bernama wanita. Aku tak berani mengucapkan satu katapun, hanya diam dan tersipu malu.

Ada satu kisah lagi, waktu itu temanku yang duduk di depanku duduk dengan tegang, nah ketika itu tempat pensil santriwati yang duduk di depanku pass dan duduk di belakang temmanku itu terjatuh dengan tidak sengaja karna sudah agak lama temanku yang itu tanpa melihat kebelakang langsung mengambilkan tempat pensil santriwati itu, dan dengan bersamaan terjadilah adegan kisah cinta seperti di TV, mengambil tempat pensil dengan bersamaan, tapi untungnya tak banyak yang tau tentang itu, mungkin jika orang satu kelas tau pasti di buly habis –habisan.

Masa Putih Abu – Abu

remaja-berkarakter

www.sehatfresh.com

Hari di mana kelulusan di resmikan, aku dengan sah lulus 100%, tanpa persyaratan atau apapun namun aku masih belu memikirkan rencana selanjutnya mau ke mana, karena waktu itu aku masih begitu polos dan labil melum bias merencanakan apa yang akan aku lakukan kedepannya. Hingga ku putuskan tuk melanjut ke tingkat SMA masih di pondok, sebut saja “PONDOK PESANTREN ISLAM AD-DA’WAH” di tingkat SMA – IT (islam terpadu). Mungkin orang bilang pondok pesatren disebut dengan penjara suci, sedikit ada benarnya tapi menurutku pondok pesantren bagaikan hanyalah sekolah tanpa kekerasan, itu yang aku alami selama di pesantren. Mungkin jika ada kekerasan itu hanya sewajarnya tanpa ada emosi dan hawa nafsu belaka.
Semasa SMA di sini mulailah rasa penasaranku meluap, rasa ingintahu mulai melintas di fikiranku. Hingga akhirnya yang dulu aku hanyalah sosok yang polos belum banyak yang aku tau, sekarang aku menjadi sosok yang bias di bilang nakal, namu nakalku yang sewajarnya dan hanya sedikit yang tau, semasa utih abu – abu ini, awalnya aku hanya ikut – ikut teman karna sifat polosku masih ada. Tapi setelah aku masuk ke kelas 2 SMA mulailah kenakalanku meningkat, hingga yang dulu hanya terpengaruh oleh teman, sekarang yang mempengaruhi, “ya Allah maafkan hambamu ini”.
Ketika memasuki kelas 3 SMA disinilah kenakalanku memuncak, pernah dulu aku membawa HP kepondok, tapi itu bukan karna di sengaja akhirnya banyak temanku yang mengikuti dan meminjam HP ku walau hp itu tak bagus, wajarlah di pondok tak boleh membawa hp, hari – hari kulalui, alhamdulilah aku belum ketauan membawa hp, tapi setelah berapa lama ku jalani hingga akhirnya kenakalan aku dan teman temanku terbongkar, karna ada santri yang memberitahukan soal ini, akhirnya kami di panggil ke kantor, aku dan kawan – kawanku di tahkim (di Tanyai) tentang pelanggaran itu.

Setelah mengaku akhirnya kami di sekors selama 1 bulan, padahal aku akan menghadapi ujian nasional 3 BULAN LAGI. tapi ya sudahlah, berani berbuat berani tanggung jawab, meskipun aku telah di hokum seperti itu tapi aku tetap tak kapok, setiap malam aku selalu kabur malam, padahal itu suatu larangan di pondok, yang lebih parah lagi, ketika aku menjelang UN aku tetap kabur malam bersama kawan anak kelas 3 SMP. Tapi itu semua menjadi pelajaran bagi aku yang sekarang.

Leave a Reply