TURUNNYA HIDAYAH

Akhir Hidup Yang Kelam

hemm

terpuruk.com

Masa kelam yang telah membutakan aku jauh dari norma – norma agama dan jauh dari Allah, yang ada hanya urusan dunia semata, jarang sekali berdo’a, tak pernah membaca Al-qur’an, shalat pun jarang aku kerjakan. Dari situlah aku mulai berpikir akan kehidupan luar. Ketika aku pulang dari berdagang (ramadhan), setelah idul fitri aku di ajak untuk berdagang oleh sepupuku, karena beliau berencana akan membuka toko cabang, dan tidak mau pengelola toko itu dari orang lain, mau tidak mau aku harus menerimanya karena ada sebab yg membuat aku tak punya pilihan.

Akhirnya aku di tarik untuk meneruskan, tapi karena masa laluku yang mengajarkan akan kejauhan diri dari norma agama. aku sengaja berleha – leha dalam berdagang agar aku bisa keluar dari dunia perdagangan. Rencana itupun berhasil, setelah aku pulang kembali kerumah banyak nasehat – nasehat yang ku dapat, entah dari bapaku sendiri, ibuku, kakak –kakakku, dan saudara – saudaraku. Tapi aku terima itu semua, karna mereka tidak tahu akan apa yang aku rencanakan.

Idul fitri, aku bersama keluargaku berencana sholat idul fitriya di tempat kakak perempuanku di purwokerto. Tapi ternyata aku masih di perjalanan menuju sana, ramadhan ini ramadhan yang terburuk yang pernah aku alami, amalana – amalan yang aku kerjakan sangatlah minim, mungkin lebih dari itu. Solat tarawih tidak ku jalankan, Qiro’ah tak pernah ku lantunkan, maksiat selalu jalan.

Tiga hari berlalu aku di rumah kakakku , aku mendapat telefon dari ustadzku yang sekarang menjadi ketua yayasan yatim dan duafa. Aku pergi ke sana setelah seminggu di rumah kakakku, diperjalanan fikiranku kesana kemari, berfikir tentang aku pada waktu itu. Yang jarang sholat , jarang mengaji, apakah aku pantas bergabung dengan orang – orang yang selalu menjaga sholat, selalu mengaji, dan ta’at pada agama.

Metamorfosis

meta

metamorfosis.com

Awal dari kebaikan, perubahan yang butuh kesabaran dan tawakal, penuh godaan dan cobaan, itulah yang aku alami dulu dan sekarang.

Hari pertama aku berkumpul dengan para ‘alim (orang yang berilmu), aku merasa sedang duduk di atas bara api, yang aku tahan rasa panas itu. Karna ini awal dari perubahan menjadi yang baik, aku mulai sholat berjama’ah lagi, aku mulai melantunkan ayat Qur’an kembali, aku mulai sering berdo’a, aku mulai sedikit berubah menjadi baik dan akan berubah menjadi yang terbaik.

Satu bulan aku lalui dengan menahan panasnya bara api, tapi yang kini aku telah terbiasa dengan panasnya itu. Tapi entah kenapa fikiran masa kelam itu selalu menghantuiku. Bisikan – bisikan selalu bergelut di fikiranku, tapi aku mencoba untuk berwudhu dan melaksanakan shalat shodaqoh (duha).

Bulan kedua telah ku lalui, aku mulai sedikit berubah dari yang dulu, sholat jama’ah selalu ku jaga, qiro’ah kulalntunkan setiap hari. Meski ada kalanya aku merasa sedang menggenggam bara yang merah. Setiap hari kegiatanku mengajar, pagi mengajar SMP dan sore aku mengajar TPA. Mingkin jika ada waktu yang kosong bisa aku gunakan untuk memanfaatkan lahan tanah yang ada dengan bercocok tanam. Seperti menyangkul dan menanam bibit. Sekaligus membantu juru kebun di pondok itu.

Di bulan ke tiga ini, aku mulai merasakan kembali kehidupan islami, Yang dulu sudah aku akhiri. Aku merasa nyaman akan semua itu meski banyak kekurangan. Susah bersama, senang bersama , kumpul bersama dan selalu berbagi rasa, Dan aku mengerti akan ukhuwah.

Memegang bara api memanglah menyakitkan, dan membuat kita tak tahan akan semua itu. Tapi karna kita selalu emegang dan menggenggam hingga kita terbiasa dan bara itu padam, walau itu semua menyakitkan , tapi hasil yang kita dapat akan memusakan.

genggam

bara api.com

Peganglah kebaikan meskipun seperti memegang bara api, karna kebaikan selalu di selimuti cobaan dan kesakitan, tapi hasil akhirnya adalah keseangan dan kegembiraan. Dan jauhilah keburukan, karna keburukan selalu di kelilingi hawa nafsu dan kesenangan, yang akan menjerumuskan kita kepada kesengsaraan kelak.

Leave a Reply